Guru Sang Murid
Guru adalah seseorang yang perkataannya dipercaya oleh
murid-muridnya. Dalam mengajar, guru harus menghindari kata-kata negatif
karena akan selalu diingat oleh anak murid yang nantinya berdampak
besar. Ratusan bahkan ribuan murid setiap tahunnya lulus dari sekolah
yang diajar oleh guru. Maka ketika sudah berpuluh tahun, murid yang
dimiliki guru banyak dan tersebar di berbagai tempat. Untuk melaksanakan
pembelajaran, seorang guru diharuskan menguasai materi, memiliki
strategi mengajar, menguasai situasi kelas.
Bagaimana guru berkomunikasi dengan murid juga merupakan poin penting
untuk menyampaikan nasihat kepada murid. Situasi dan suasana hati
pemberi atau penerima nasihat mempengarhi diterimanya nasihat atau
tidak. Sebisa mungkin harus mengupayakan untuk berbicara dari hati ke
hati. Maka dari itu sangat penting bagi guru untuk mengenal muridnya
secara individu agar lebih dekat dengan muridnya. Dekat dengan murid
bukan berarti kehilang wibawa melainkan bisa memberikan rasa nyaman
kepada murid karena merasa diperhatikan. Mengingat nama memang tidak
mudah, namun menyebutkan nama menjadi sangat penting bagi guru dan
murid. Sebagai contoh sapaan “selamat pagi” sudah pasti berbeda dengan
sapaan “selamat pagi Yono”. Langkah yang harus diambil ialah bergantian
ketika memberikan perhatian, jangan sampai terkesan pilih kasih kepada
murid.
Jumlah siswa dalam kelas di sekolah negeri yaitu maksimal 40 siswa.
Padahal sudah barang tentu jumlah siswa di dalam kelas sangat
mempengruhi situasi kelas. Dalam menangani kelas terdapat banyak metode
yang bisa dilakukan oleh guru. Metode-metode tersebut tidak selalu bisa
diterapkan, tergantung kreatifitas para guru sehingga materi dapat
disampaian.
Ilmu mengajar atau menjadi guru merupakan sebuah seni. Bagi seseorang
yang tidak mempunyi jiwa mengajar maka akan sangat tersiksa. Menejemen
waktu dalam mengajar sehingga tidak mengalami tekanan waktu. Begitu pula
dalam hal membuat soal juga harus berhati-hati serta realistis. Di
internet banyak soal, tapi pembuatannya kurang benar. Sebenarnya dalam
mengajar tidak ada UTS ataupun UAS tidak jadi masalah, tapi masalahnya
guru harus melaporkan hasil pembelajarannya. Sebenarnya guru bisa
menguji apakah pelajaran yang disampaikan sudah diterima oleh murid atau
belum dengan cara pre test atau pos test, bahkan pre test dan pos tes
tidak harus dengan tertulis, bisa saja bertanya secara acak.
Penulis : Anisa Dina Rahmayanti Biro Kemuslimahan Kammi Komisariat Madani
0 komentar:
Posting Komentar