Rasnal H. Bisnu, Sudah Menulis Tiga Buku
![]() |
| Rasnal H. Bisnu |
NAMA Rasnal H. Bisnu sudah tidak asing lagi. Terutama di lingkungan
kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung. Ini tidak
lepas dari karya dan prestasi yang disandangnya.
Mahasiswa semester VIII Jurusan Jinayah Siyasah Fakultas Syari’ah
IAIN sedikitnya telah berhasil menulis tiga buku. Yaitu Harapan sang
Musafir (2008), Saya Bangga menjadi Mahasiswa IAIN (2010), dan Jangan
Nodai Negeriku (2010).
Bahkan, buku Harapan sang Musafir yang
berisikan sebuah harapan pemuda-pemudi Indonesia untuk menggali potensi
serta agar mahasiswa profesionalitas dalam bidangnya sudah terjual 600
eksemplar. ’’Dengan banyaknya yang terjual, tentu yang membaca dan bisa
mengambil nilai pembelajarannya pun banyak. Ini sebenarnya yang membuat
saya puas,’’ ungkapnya kepada Radar Lampung saat ditemui di kampusnya
kemarin.
Selain sudah menghasilkan karya berupa buku, mahasiswa
kelahiran Ternate, Maluku, ini ternyata telah mengantongi segudang
prestasi sejak duduk di bangku SD. Tidak heran jika ia sebagai menerima
beasiswa ketika di bangku SD dan SMP di kampung halamannya, Ternate.
Kemudian menerima beasiswa dari Wakil Gubernur Ternate untuk sekolah ke
SMA di Pondo.
Ada pun prestasi yang pernah diraihnya antara lain
juara Lomba Akuntansi se-Ja
teng (2004), juara harapan 4 Debat Bahasa Arab yang diselenggarakan Pemerintah Maluku Utara (2009), dan juara 4 Hifdzul Quran tingkat mahasiswa se-Lampung di Unila (2008).
teng (2004), juara harapan 4 Debat Bahasa Arab yang diselenggarakan Pemerintah Maluku Utara (2009), dan juara 4 Hifdzul Quran tingkat mahasiswa se-Lampung di Unila (2008).
Bisnu
juga tercatat sebagai peraih beasiswa ke Sudan dan Madinah dari Ternate
(2007) dan penerima penghargaan pemerintah Ternate sebagai mahasiswa
berprestasi yang dijadikan duta mahasiswa Provinsi Maluku Utara (2008),
dan mewakili mahasiswa Ternate untuk lomba di Malaysia 2009. Namun, ia
lebih memilih melanjutkan studinya ke IAIN raden Intan Lampung.
Ia menuturkan, dirinya mampu menulis karena sudah terbiasa menulis.
Mulai menulis ringan seperti kisah pribadi dalam diary. ’’Lambat laun
ternyata jadi gapah. Tentunya harus banyak juga membaca buku. Soalnya
bagaimana bisa menulis jika membaca saja tidak pernah,’’ tandasnya.
Ditambahkan,
ide membuat buku muncul karena ingin berbagi ilmu. Di mana setiap
manusia pasti memiliki potensi. Kuncinya harus diasah,’’ ujar mahasiswa
yang tinggal kos di Jalan Kimaja, Wayhalim, Bandarlampung. (hyt/c3/rim)

Tunggu tulisan, tulisanku...
BalasHapusAan Kurniawan Saputra