Yang mulia? Yang mana?
By : Novi Rina Wati
Saat berangkat ke kampus, saya selalu melewati sepetak tanah yang
sudah difungsikan sebagai tempat penimbunan sampah. Jujur saja, ketika
melewatinya muncul perasaan jijik, bau, ilfeel atau ingin segera menjauh
dari tempat itu. Dan sambil berjalan menuju kampus, anganku melayang
membayangkan pemulung atau tukang sampah yang sering datang ke penimbunan
sampah itu untuk memilah botol-botol plastik yang bisa didaur ulang untuk dikumpulkan ke pengepul
sampah.
Pemulung-pemulung ini secara
tidak langsung menggantungkan hidupnya pada sampah. Dan pemulung-pemulung itu
hidup didaerah yang kotor, bau, tak terawat dan sangat mengenaskan. Apa
ini yang dikatakan masyarakat sampah? Lalu para tukang sapu yang biasa kita
temui di kampus IAIN apakah merekapun secara tidak langsung dapat disebut
sebagai masyarakat sampah? Karena hidupnya yang menggantungkan pada banyaknya
sampah dijalanan? Yang jika tak ada sampah maka hilang mata pencaharian mereka?
Atau para ibu muda yang kreatif yang menggunakan sampah plastik
bekas detergen, bekas air mineral kemasan, atau bahkan dari kain perca yang
kesemuanya itu hakikatnya adalah sampah? Bagaimana? Bisakah disebut masyarakat
sampah? karena pekerjaan yang memberikan manfaat financial berasal dari benda
yang sudah tidak digunakan dan di BUANG?
Kemudian apa kabar dengan para
wakil rakyat yang korup di negeri ini? Yang terkadang kunjungannya tetap disambut
dengan mewah padahal sedang tersandung kasus korup? Yang menggunakan berbagai
macam fasilitas dari rakyat namun tak pernah puas dan tetap mencuri uang
Negara? Dengan stelan baju yang matching,
jas wangi, berdasi, yang sangat jauh
dengan kesan kotor, bau, dan menjijikkan.
Itulah yang pantas disebut
Sampah Masyarakat, yaitu wakil rakyat yang menyalahgunakan uang Negara, yang korup dan menjadikan
masyarakatnya sendiri menjadi masyarakat yang hanya hidup dari sampah! Padahal
negara kita terlalu kaya jika masyarakatnya harus menjadi masyarakat sampah.
Merekalah (sampah masyarakat) yang seharusnya dibuang dari struktur
kemasyarakatan. Yang jasnya tidak bau tapi membeli dengan uang yang bau karena
diperoleh dengan jalan haram. Yang pakaiannya tak kotor tapi justru jauh dalam
hatinya menyimpan sejuta kekotoran. Semoga pada pemilukada selanjutnya para
masyarakat sampah memilih wakil rakyat yang tepat. Yang insyaAllah tidak
membuat lahirnya para sampah masyarakat yang baru.
Seperti halnya pemilukada yang
rencananya diadakan pada pertengahan 2014 mendatang, Fakultas Dakwah IAIN Raden
Intan Lampung juga akan mengadakan pesta demokrasi yang biasa disebut PEMIRA (Pemilihan Raya Mahasiswa) setelah
beberapa waktu lalu PEMIRA juga diadakan di fakultas Ushuluddin dan menyusul
fakultas Tarbiyah. PEMIRA adalah ajang dimana akan terpilihnya seorang pemimpin
fakultas yang biasa disebut SEMA-F yang harapannya dapat melaksanakan amanah
dengan penuh bertanggung jawab, komitmen, tidak apatis dan mampu berjuang demi
perbaikan fakultas dakwah kedepannya. Dengan rasa tanggung jawab dan Loyalitas
Tanpa Batas !!
0 komentar:
Posting Komentar