Breaking News
Loading...
Kamis, 25 Juli 2013

Yang mulia? Yang mana?


By : Novi Rina Wati 

Saat berangkat ke kampus, saya selalu melewati sepetak tanah yang sudah difungsikan sebagai tempat penimbunan sampah. Jujur saja, ketika melewatinya muncul perasaan jijik, bau, ilfeel atau ingin segera menjauh dari tempat itu. Dan sambil berjalan menuju kampus, anganku melayang membayangkan pemulung atau tukang sampah yang sering datang ke penimbunan sampah itu untuk memilah botol-botol plastik yang bisa  didaur ulang untuk dikumpulkan ke pengepul sampah.

                Pemulung-pemulung ini secara tidak langsung menggantungkan hidupnya pada sampah. Dan pemulung-pemulung itu hidup didaerah yang kotor, bau, tak terawat dan sangat mengenaskan. Apa ini yang dikatakan masyarakat sampah? Lalu para tukang sapu yang biasa kita temui di kampus IAIN apakah merekapun secara tidak langsung dapat disebut sebagai masyarakat sampah? Karena hidupnya yang menggantungkan pada banyaknya sampah dijalanan? Yang jika tak ada sampah maka hilang mata pencaharian mereka?


Atau para ibu muda yang kreatif yang menggunakan sampah plastik bekas detergen, bekas air mineral kemasan, atau bahkan dari kain perca yang kesemuanya itu hakikatnya adalah sampah? Bagaimana? Bisakah disebut masyarakat sampah? karena pekerjaan yang memberikan manfaat financial berasal dari benda yang sudah tidak digunakan dan di BUANG?

                Kemudian apa kabar dengan para wakil rakyat yang korup di negeri ini? Yang terkadang kunjungannya tetap disambut dengan mewah padahal sedang tersandung kasus korup? Yang menggunakan berbagai macam fasilitas dari rakyat namun tak pernah puas dan tetap mencuri uang Negara?  Dengan stelan baju yang matching, jas  wangi, berdasi, yang sangat jauh dengan kesan kotor, bau, dan menjijikkan.

                Itulah yang pantas disebut Sampah Masyarakat, yaitu wakil rakyat yang menyalahgunakan  uang Negara, yang korup dan menjadikan masyarakatnya sendiri menjadi masyarakat yang hanya hidup dari sampah! Padahal negara kita terlalu kaya jika masyarakatnya harus menjadi masyarakat sampah. Merekalah (sampah masyarakat) yang seharusnya dibuang dari struktur kemasyarakatan. Yang jasnya tidak bau tapi membeli dengan uang yang bau karena diperoleh dengan jalan haram. Yang pakaiannya tak kotor tapi justru jauh dalam hatinya menyimpan sejuta kekotoran. Semoga pada pemilukada selanjutnya para masyarakat sampah memilih wakil rakyat yang tepat. Yang insyaAllah tidak membuat lahirnya para sampah masyarakat yang baru.

                Seperti halnya pemilukada yang rencananya diadakan pada pertengahan 2014 mendatang, Fakultas Dakwah IAIN Raden Intan Lampung juga akan mengadakan pesta demokrasi yang biasa disebut  PEMIRA (Pemilihan Raya Mahasiswa) setelah beberapa waktu lalu PEMIRA juga diadakan di fakultas Ushuluddin dan menyusul fakultas Tarbiyah. PEMIRA adalah ajang dimana akan terpilihnya seorang pemimpin fakultas yang biasa disebut SEMA-F yang harapannya dapat melaksanakan amanah dengan penuh bertanggung jawab, komitmen, tidak apatis dan mampu berjuang demi perbaikan fakultas dakwah kedepannya. Dengan rasa tanggung jawab dan Loyalitas Tanpa Batas !!

0 komentar:

Posting Komentar

Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 KAMMI IAIN Raden Intan Lampung All Right Reserved