Breaking News
Loading...
Kamis, 18 Juli 2013

Saya dan Wanita

Saya jarang menghasilkan karya tulis dalam bentuk artikel atau bahkan opini, hannya mungkin beberapa dan setelah dievaluasi, oh menyedihkan sekali. tapi modal nekad masih berlaku dan gratis, so mengapa tak dicoba? ;)

Sepakat jika hasil diskusi saya kali ini dengan salah seorang sahabat bahwa wanita adalah control social. Yang berarti kemajuan suatu negara maupun organisasi, dapat diindikasikan melalui wanita yang ada didalamnya. Wanita adalah tiang negara, kalimat klasik yang sedikit terlupakan oleh kita ini sejatinya penting oleh kita tindaklanjuti. Mengapa demikian? Karena dibalik orang-orang agung ada wanita agung dibelakangnya, boleh dibedah kembali tokoh muslim keren Anas bin Malik, yang dibelakangnya ada Ummu Sulaim yang begitu besar cintanya pada Rasulullah sehingga rela menghadiahi Rasulullah anaknya yang cerdas Anas bin Malik, kemudian Urwah bin Zubair tabiin yang termasuk salah satu dari tujuh fuqaha Madina yang terkenal keilmuan,kezuhudan, dan ketaqwaannya, dan menjadi penasehat pribadi Umar bin Abdul Aziz tatkala menjabat sebagai gubernur di Madinah. Beliau lahir dari rahim shahabiyah ternama Asma’ binti Abu Bakar yang digelari wanita pemilik dua ikat pinggang oleh Rasulullah.


Ya, wanita adalah tiang negara, yang dari rahim para wanita luar biasa maka lahir pembesar dunia. Maka, jika rusak moral, akhlak wanita-wanita dalam suatu negara, organisasi, perkumpulan-perkumpulan lainnya akan diragukan apakah wanita tersebut mampu mendidik anak-anak mereka yang sekarang disebut iron stock. Tak terelakkan wanita adalah murabbi pertama bagi anaknya, yang mengajarkan segalanya, memperkenalkan dunia. Itulah mengapa sangat tidak disepakati jika ada statemen menyebutkan wanita tak butuh pendidikan formal maupun informal dengan alasan wanita tak berkewajiban mencari nafkah. Apalagi kalimat wanita itu akan menghadapi sumur, dapur, dan kasur. 

Bicara wanita yang erat dengan ibu. Maka akan dekat dengan kebaktian kita terhadap wanita yang kita panggil ibu. Diskusi saya kali ini pun menyimpulkan sesuai dengan tuntunan (alQuran dan hadits, juga pendapat para ulama) yang kemudian melalui pemikiran, bahwa ketika sudah menikah wanita itu ‘milik’ suaminya, Namun untuk seorang laki-laki ia masih ‘milik’ ibunya. Wanita memang perasa, saya pun demikian dan membayangkan jika bagaimana ketika (nanti) memiliki suami yang menyayangi ibunya sehingga melebihi sayangnya padaku (ups), namun ternyata menurut beberapa sumber bahwa wanita hanya butuh waktu untuk kemudian menyadari. Hanya putar ballik sebenarnya, ketika seorang suami bakti pada ibunya maka anak lelakinya bakti pada istrinya. Wanita tetaplah yang Utama.

Ditulis Oleh : Novi Rina Wati 

0 komentar:

Posting Komentar

Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 KAMMI IAIN Raden Intan Lampung All Right Reserved