Just For my Mom I write my story
Juara 1 _ Lomba Menulis Hari Ibu
Novi Rina Wati
Just For my Mom I write my story
Because only my mom can wipe my tears, Because my mom who
only hears
Whenever the rain comes down and it’s seems there’s none to
hold me
She’s there for me, she’s my mom.
Hpku bergetar tanda panggilan masuk. Segera aku menekan tombol hijau.
“Halo Assalamualaikum” sapaku
hangat,
“Waalaikumsalam. Halo nak, piye
kabare1??” jawab seseorang di seberang sana, suara seorang
wanita yang selalu aku rindukan, suara wanita yang doanya mampu mengalahkan
kenyataan paling tidak mungkin didunia ini.
“Alhamdulillah bu, Febrian sehat
disini. Ibu sendiri gimana ?” jawabku lembut.
“Ibu sehat nak Alhamdulillah. Nak,
kemarin ibu titip bingkisan sama si Jami buat bekal kamu disana”
”iya bu, baru aja Febrian ketemu
bang Jami. Kok banyak sekali toh bu, Febrian tu nggak setiap hari makan
dirumah, khawatir sayurannya pada busuk bu.”
“gak papa toh nak, untuk
kawan-kawanmu juga disana. Kamu jangan sering makan diluar, nggak sehat. Lagi
pula semakin hari kamu tambah kurus nak”
“nggeh ibu, “ jawabku.
“ya sudah dulu ya nak, ini lagi ada
tamu. belajar yang tekun, semoga dadi anak seng soleh, ojo lali solat 5
waktu nya nak2 .”
“nggeh3 bu,
ibu juga jaga kesehatan, kurangi aktivitas, dan jangan terlalu banyak fikiran ”
“iyo le4,
Assalamualaikum”
“waalaikumsalam”
Aku tertegun melihat apa yang
dikirimkan ibu. Berbagai macam sayur-mayur, buah dan makanan kesukaanku, karena
jumlahnya yang banyak sering aku bagikan pada teman-temanku. Aku terhitung
jarang berada di kos, makan tak teratur, apalagi jika harus masak sendiri. Aku
aktiv di berbagai organisasi internal maupun eksternal.
Tak jarang saat pulang kampung,
bekal yang disiapkan ibu untukku hingga kelebihan muatan. Seringkali aku
menyampaikan keberatanku membawa bekal-bekal tersebut. Kendati demikian tak
pernah sekalipun ibu terlihat kecewa dan sedih. Dan tetap saja menyiapkan
barang bawaan itu untukku, aku sering merasa risih aku merasa bukan anak kecil
lagi yang segalanya masih disiapkan oleh ibu.
Ingatanku melayang, teringat ketika
aku memasuki SMA, dihari pertamaku ibu masih menyiapkan bekal makanan dalam
kotak nasi, terang saja aku menolaknya. Aku tak ingin dianggap sebagai
anak yang manja dan tidak mandiri, bagaimana mungkin anak SMA masih membawa
bekal ke sekolah? Begitu pikirku
“ibu ndak mau nak, kamu
keracunan makanan di sekolah seperti waktu kamu masih kecil dulu nak” jawab
ibunya saat itu.
Tapi tetap saja aku enggan membawa
makanan yang telah disiapkan ibu.
***
2 Minggu kemudian
4 Panggilan Tak Terjawab
Ternyata dari Mas Ari. Ada apa, fikirku.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam” terdengar jawaban dari seberang sana.
“ Mas Ari, maaf tadi febrian lagi UAS terus langsung pulang nggak ngecheck
hp. Ada apa mas ?
“hm iya, ini le ada berita duka,” ujarnya pelan.
“berita duka ? berita duka apa mas?” Aku kaget.
“ibu le, ibu meninggal dalam kecelakaan” kata Mas Ari lemas.
“Innalillahiwainnailaihiraji’un
ibuu”
“Tuut Tuut”
Aku segera memakai jaket dan menyambar dompet serta kunci
motor diatas meja.
“kak Rian mau kemana ?”
Sapaan Eqi sudah tak terdengar lagi, aku bergegas menstarter
motorku dan langsung menuju kearah Lampung Barat.
***
“Bapak yang salah le, bapak
yang tidak sempat menjemput ibumu pulang dari pengajian mingguan di masjid,
motor tukang ojek itu berusaha menyalib truk yang ada didepannya dan ada mobil
sedan dari arah depan. Dan terjadi lah kecelakaan itu. Maafkan bapakmu le
tak bisa menjaga ibu mu, bapak le yang salah, Pengapunten5
bapak yo Ari, maafkan bapak juga Febrian…”
Masih terngiang ucapan penyesalan
bapak tadi beberapa saat setelah prosesi pemakaman kemarinaku hanya terdiam
menundukan kepala. Aku tak akan menyesali semua ini, sepenuhnya aku begitu
mencintai wanita itu, wanita yang telah melahirkanku, merawatku, mendidikku,
melakukan segalanya bagiku. Namun aku memang harus mengikhlaskan kepergiannya.
Aku berpamitan pada bapak untuk
kembali ke Bandar lampung, ada yang asing sekarang, tak ada ibu, Tak ada air
mata dan doa-doa yang beliau panjatkan untukku setiap kali aku pergi
meninggalkan kampung halaman.
***
Aku menatap kamarku yang kini menjadi asing bagiku, kosong. Tak ada lagi sayur-sayuran,
dan berbagai makanan yang biasa disiapkan ibu. Tak ada lagi dering telepon dari
ibu yang mengingatkanku makan dan shalat.
Aku mulai sadar dan menyesalnya aku yang dulu tidak menikmati perhatian ibu
disaat beliau mampu. Betapa mungkin saja dulu ibu kecewa saat aku menolak
perhatian itu, aku menyesal mengecewakannya. Kini, untuk kesekian kalinya aku
kembali merindukan sosok ibu,. Ibu yang kasih sayang dan perhatiannya yang tak
pernah surut.
Aku mulai menangis, merindukan ibu yang mengusap air mataku. Merindukan
senyumnya, senymnya yang teduh dan menggetarkan hati.
Ibu, engkau pasti tau aku sangat mencintaimu.
Keterangan :
1.Gimana kabarnya ? (jawa)
2. jadi anak yang soleh, jangan lupa sholat 5 waktu (jawa)
3.iya (jawa)
4.panggilan sayang pada anak laki-laki (jawa)
5.maafkan (jawa)
0 komentar:
Posting Komentar